Ruang Kerja..

.

Hai Reader, How are you ? How’s bout your life ?

Hari ini saya menulis postingan ini dari pojok kanan belakang ruang demografi badan pusat statistik.
Sudah hampir dua minggu ini saya menjalani hari-hari baru sebagai seorang pekerja.

Guess what Reader ?
saya rasa pekerjaan ini sedikit demi sedikit membuat saya semakin beranjak dewasa.
dan saya menyadari bahwa ternyata menjadi orang dewasa itu memang tidaklah mudah.
saya ingat bagaimana saya menganggap wanita-wanita yang bekerja adalah wanita yang kuat, dan bagi saya ruang baru ini seperti ruang tempa yang menguatkan saya suatu hari nanti.

Delapan jam dari dua puluh empat jam yang diberikan Tuhan saya gunakan untuk berbicara dengan pikiran saya sendiri di kantor, no one know my thought. Diperjalanan pergi dan pulang kantor terkadang saya sangat merindukan ibu  saya yang tinggal sendirian dirumah, menanti saya pulang kerumah.

Tapi terlepas dari itu semua, saya bersyukur karena melalui ini saya bisa mendapatkan pengalaman untuk menjadi wanita yang mandiri. dan yang paling saya senangi dari aktivitas baru ini adalah tentang menghirup udara yang sangat segar dipagi buta, berjalan sepanjang jalan pasar baru dan melihat-lihat lukisan yang selalu sama tiap harinya. membayangkan cita-cita yang saya inginkan tapi tak pernah saya kerjakan. saya selalu bisa mencela diri saya sendiri yang tidak pernah konsisten ketika benar-benar menyukai sesuatu. lalu menertawakan diri saya sendiri. entahlah, tapi saya senang karena saya bisa menertawakan diri saya sendiri. 🙂

Mungkin banyak kata yang tidak bisa diungkapkan dibalik rasa sepi dan diantara rasa syukur.

kegiatan ini terkadang memang membuat saya mengenang dan merasa sepi, membuat saya berpikir kembali tentang kehidupan, tentang tawa dan kehangatan yang selalu saya miliki beberapa waktu silam.

haah.

Di berbagai jalanan yang saya lalui terkadang terasa seperti dicubit dari dalam karena merasa sepi, rasanya seperti semua orang yang biasanya menjadi teman bicara saya, yang menjadi teman berjalan saya menghilang begitu saja dan meninggalkan saya sendiri dalam perjalanan. kadang saya merasa sangat sedih.

tapi walaupun begitu, tetap saja pasti ada hal yang bisa saya syukuri, bagaimanapun juga walaupun saya berjalan sendirian tanpa genggaman, dan walau setiap hari saya berbicara sendiri dengan pikiran saya. Paling tidak dulu saya pernah merasakan hal yang berbeda. saya pernah melalui semua jalan yang saya lewati dengan senyum dan tawa, dengan genggaman tangan dan senyuman. 🙂

manusia selalu memiliki fase bahagia dan fase sedihnya. mungkin sekarang saya sedang berada diperantaraannya. tak ada gunanya saya mengeluh dan menangis merengek. yang terpenting adalah…

saya bersyukur atas semuanya. 🙂

terimakasih untuk pengalaman ini, semoga menyenangkan selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s