I am not ready to get married

 

Beberapa bulan pasca wisuda, saya merasa ada perubahan yang cukup besar dalam hidup saya, salah satunya adalah mengenai tema yang sering sekali dilemparkan oleh teman-teman atau keluarga terdekat saya.

Selain bertanya kapan saya penempatan dinas, mereka mesti akan menanyakan “kapan kamu menikah”. Hampir tiap hari saya selalu menemui hal yang berkaitan dengan PERNIKAHAN. Banyak pernikahan dimana-mana. Apalagi ketika membuka timeline facebook di akun saya.. Itu mengapa saya sering memilih menonaktifkan akun saya.

Setiap hari saya pasti bertemu dengan hal-hal yang berhubungan dengan PERNIKAHAN. Entah itu postingan foto pernikahan, kakak tingkat yang sedang bermain bersama anak bayi mereka yang lagi lucu-lucunya, Teman yang selalu mempermasalahkan calon jodohnya yang belum datang, dan ada pula yang memamerkan tentang pertunangan dan rencana pernikahan mereka.

Bahkan, beberapa waktu lalu saya pernah terbawa emosi. Saya sempat mengatakan dengan tegas bahwa saya ingin segera menikah, saya ingin kepastian kapan dinikahi dan saya bosan berpacaran. ๐Ÿ˜ฆ

iya . sejujurnya saya memang sedang bosan berpacaran, terlalu menguras emosi dan menguji kesabaran saya serta menumpuk dosa #curhat :p . Sampai sesaat setelah itu saya menyadari bahwa pernikahan bukanlah perlombaan, bukan juga garis finish sebuah hubungan. Justru awal dari sebuah pengorbanan hidup.

Sebagai perempuan, bukankah kalau sudah menikah saya harus mengurusi dia ? Menyiapkan SEGALA kebutuhan dan keperluan hidupnya. Ridho nya berarti ridho Tuhan.
Bukankah kalau sudah menikah saya bukan milik ibunda saya lagi, tapi milik nya?
Sedangkan saya merasa sangat nyaman seperti ini, setiap malam saya selalu tidur dalam pelukan ibunda saya. Menyiapkan makanan untuk nya, sebagai usaha saya untuk meraih keberkahan dari-Nya.
Bukankah kalau sudah menikah, semuanya tentang kebahagiaannya ?
Sedangkan saya masih sangat egois dengan kebahagiaan saya sendiri, mungkin begitu pula dengannya. Kami masih sibuk menyulam kebahagiaan kami masing-masing. Cita-cita dan mimpi-mimpi yang belum terwujud.

Oleh karena itu, saya menyadari bahwa saya BELUM siap melangkah ke jenjang pernikahan, bukan hanya saya. Mungkin juga kamu, kalian dan kita semua yang rasanya terlalu terburu-buru ingin menikah.

Lalu untuk pertanyaan, “Bukankah, menikah itu harus disegerakan ? Itukan menggenapkan separuh agamanya ?”

Iya. Saya mengerti akan hal itu, tak ada manusia yang tak ingin genap agamanya, tapi sekali lagi…
Apakah suatu hal besar tanpa persiapan dan ilmu yang cukup bisa berjalan dengan baik ?
Seorang atlet pun harus berlatih dan belajar tiap hari agar menang di kejuaraan.
Menurut saya, begitu pula halnya dengan menikah. Butuh kesiapan dan ilmu yang cukup, bukan hanya keinginan untuk berdua bahagia selamanya seperti di cerita dongeng cinderella.

Saya belum siap.
I’m not ready to get married
Saya masih terlalu egois.

Sedangkan menikah adalah meleburย  keegoisan dan lebih mementingkan kebahagiaan pasangannya. Dan saya masih perlu banyak ilmu untuk berani menjalani kehidupan setelah pernikahan.

Kesimpulannya,
Bolehkah segala perbincangan tentang “pernikahan” ditunda beberapa waktu kedepan, sampai saya, kamu dan kita semua benar-benar siap menjawab pertanyaan itu.

“Kapan kamu menikah ? ”
“Kapan kamu dinikahi ? ”

Dengan jawaban.

Saya menikah minggu depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s