Gema Takbir : Gema Rindu

 

“Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar walillah ilham”

Kepada gema takbir malam ini, kuselipkan lembaran rindu sedalam-dalamnya kepadamu.

Dua puluh tahun sudah selalu ku lalui malam idul fitri bersamamu,
di penghujung ramadhan.
di akhir senja matahari yang kemerahan.

Selama itu selalu kau lukiskan senyum di bibirku,
dua puluh tahun idul fitriku bersamamu,
gema takbir dengan tawa dan senyum selalu bersahutan di dalam hatiku.
di dalam hatimu. di dalam hati kita semua.

dalam rentang waktu itu, aku selalu bahagia bersamamu.
selalu tersenyum karenamu.

aku ingat, dulu..
sembari memasukan satu persatu butiran nastar dengan keju di dalam toples lebaran.
sembari ku susun satu persatu toples lebaran di atas meja, kau suruh aku memasukan uang kecil kedalam amplop.

“ini Nak, tolong di susun dalam amplop. besok untuk dibagikan kepada anak-anak kecil di sekitar kampung”, Katamu.

Yah, Kau selalu ajari aku untuk memberi, tanpa pamrih. tanpa memilih..

Kepada gema takbir malam ini, ku titip rindu lewat bulir air mata yang menetes..

ini tahun pertama aku tanpamu, tahun pertama aku tak punya baju baru yang biasanya kau belikan.
ini tahun pertama aku tanpamu, tanpa seorang yang biasa selalu membanggakan aku sebagai anak gadisnya.
ini tahun pertama meja di ruang tamu kita tak punya sajian apapun. tak ada nastar, tak ada kue putri salju kesukaanmu. kosong.

ini tahun pertama, dimana tak ada tangan yang kucium untuk ku mintai ridho dan maafnya.
ini tahun pertama tak ada yang mencium keningku dan mengatakan betapa ia mencintaiku.
ini tahun pertama aku menjadi yatim karena kepergianmu.
ini tahun pertama aku tanpamu.
tahun pertama Β dimana takbirku diiringi tangis.. diiringi sesak rindu yang ku simpan dalam diam..

Ayah, aku belum terbiasa..

Kepada gema takbir malam ini, kukirimkan doa kecil ku untuk mu..

Sepi dan kosong tanpa kehadiranmu,
kau lah sebenar-benar nya cahaya kebahagiaan dan kehormatan.

Ayah, ini tahun pertamaku tanpa mu.
tahun pertama lebaran ku disesaki sepi dan rindu, diisaki tangis yang ku hamburkan di atas sajadahku.
Ayah, walau esok tak bisa ku cium tanganmu, tak bisa ku rasakan ciumanmu di keningku.

Aku berharap tetap ada ketegaran, kekuatan dan kebaikan mu yang mengalir di darahku.
Aku berharap Β aku tetap bisa menjadi anak gadis kebanggaanmu, di duniamu dan di akhiratmu.
Aku berharap di atas sana kau tersenyum, kau bahagia.

Ayah,,
Lewat gema takdir malam ini, ku titipkan rindu dan salam perpisahan yang panjang.

Aku mencintai apa yang ada di dalam dirimu.
terimakasih ayah untuk dua puluh tahun kau lindungi aku,
terimakasih untuk dua puluh tahun kau jaga aku,
kau buatkan semua yang aku butuh, kau lakukan semua demi kembang senyum di bibirku.

“Selamat hari idul fitri, Ayah”
“Semoga aku bisa membahagiakanmu, dunia dan akhirat” amin..

Jakarta, 1 Syawal 1434 Hijriah
Anakmu.
Nurul Puspita Sari

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Advertisements

2 comments on “Gema Takbir : Gema Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s