Secarik surat untuk Mama

261523_4580211431814_218995098_n

Jakarta, 15 Maret 2013

Kepada wanita yang kasih sayangnya tanpa cela, tanpa patah dan tanpa pisah.
ia yang sedang menemaniku terbaring dalam sakit di ujung tempat tidur.

Ma, terimakasih karena sudah membawakan laptop untukku menulis disaat aku sangat ingin menulis seperti sekarang ini.
Semalam, tak henti-hentinya airmataku menetes dalam malam yang sunyi, dalam diamku. aku menangis. bukan karena aku merasa sakit atau merasa gerah dan sesak. Tapi, karena aku merasa takut sendirian. Aku menyadari aku takut sendirian tanpamu.

Hampir delapan ribu hari kau selalu disampingku, tak sedikitpun kau tinggal kan aku dalam kesendirian, kesepian, dan ketakutan. Pagi ini aku merasa sangat merindukanmu,Ma. Bahkan senyumku mengembang saat melihat wajahmu muncul dibalik daun pintu kamar yang pengap ini. Semalam sangat menakutkan,Ma.

Aku mencoba memejamkan mataku, tapi aku merasa sendirian.
Semua kenangan tentangmu berputar dikepalaku,seperti film yang diputar pada seperangkat alat pemutar film klasik. Wajahmu, senyummu, tangismu, tawamu, memenuhi kepalaku dan menggenang begitu nyata disana.

Entah aku sadar atau tidak, aku melihat wajahmu yang masih muda dan cantik,  tersenyum sembari mengelus perutmu yang mulai membesar. Perutmu yang berisi diriku, Aku melihatnya begitu jelas,Ma. Kau tersenyum dan bersyukur kepada Tuhan didalam shalatmu. kau elus perutmu dan memanjatkan doa untuk kesehatan dan keselamatan ku.

Kenangan-kenangan itu terus berlanjut sampai kesaat kau menjerit sakit saat rahimmu robek karena aku, aku melihat dengan jelas bulir-bulir airmata kesakitan dan keringat mengucur di dahimu. Maafkan aku Ma, andai aku bisa tak menyakitimu saat itu, aku pasti akan lakukan. Maafkan aku, Ma.

Lalu ku lihat diriku yang masih berlumuran darah di tangan seorang bidan yang membantumu melahirkan, kau tak lagi menangis setelah itu,Ma. kau tersenyum. dan aku merasa sangat hangat saat bidan itu memberikan aku kedalam dekapanmu. Terimakasih, Ma.

ketika aku berumur 1 tahun,  kau ajari aku berjalan, kakiku masih sangat lemah saat itu. kau tersenyum sembari menuntunku, menimang-nimang aku , membacakan shalawat nabi di ubun-ubunku jika aku hendak tertidur, kau suapi aku dan kau jawab semua pertanyaanku tentang makanan yang sedang aku makan sebisamu.

Ketika aku berumur 2 tahun, Aku ingat waktu kau suapi aku makan di depan beranda rumah kita,  kau ajari aku tentang Tuhan, Allah. saat itu aku bertanya padamu ‘darimana asal nasi yang aku makan ma ?’  lalu kau jawab bahwa nasi yang aku makan berasal dari Allah, sang maha pencipta dan maha memberi. ‘Aku bertanya siapa Allah , Ma?’ Kau menjawab bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan semua yang aku punya. termasuk dirimu,Ma. Kau lah madrasah pertamaku, yang mengajari aku mengenal Tuhanku. Terimakasih,Ma.

Ketika aku berumur 3 Tahun, Disaat kau ditinggalkan Ayah dinas keluar kota selama berminggu-minggu, kau selalu menjagaku. disaat badanku demam karena merindukan ayah kau lah yang mendekapku dan menenangkan ku, kau jaga aku sampai tak tertidur, kau kipasi aku dengan kipas yang terbuat dari rotan. Aku ingat memang saat itu untuk membeli kipas anginpun kita tak punya uang, tiap malam kau selalu mengipasi aku dengan kipas rotan itu. Terimakasih ma.

Ketika aku berumur 4 tahun, kau belikan aku pensil warna yang begitu indah, kau ajari aku menggambar. Kau ajari aku membuat bunga, bebek, cicak dan gajah. tapi sebagai gantinya, aku malah mencoret-coret dinding rumah kita. Lalu dengan bangganya ku katakan padamu bahwa aku telah menghiasi dinding rumah kita, tapi kau tak marah padaku, Ma. Kau hanya tersenyum dan mengatakan bahwa gambarku indah. dan akan lebih indah jika aku gambar di kertas gambar. Saat itu kau janjikan aku, jika aku menggambar dengan indah di kertas gambar kau akan membingkai gambarku dan menaruhnya di dinding untuk mengiasi dinding. Dan kau tak pernah berbohong. Kau melakukannya.  Kau bingkai semua gambar-gambar abstrakku dan meletakkannya di dinding kamarku. Terimakasih Ma.

Ketika aku berumur 5 tahun, aku marah karena disuruh duduk di bangku taman kanak-kanak, aku mengatakan padamu bahwa aku tak suka bermain, aku tak suka sekolah TK, aku mau sekolah dengan seragam merah putih seperti bendera Indonesia. aku tak suka disuruh menggambar telur seratus kali, dan aku tak suka berpakaian seperti polisi setiap pergi ke taman kanak-kanak. Kau tersenyum dan menuruti keinginanku, kau memohon kepada kepala sekolah ku dulu untuk membiarkan aku ikut sekolah walau hanya duduk saja diurutan paling belakang.

Selama aku bersekolah SD kau selalu mengantar dan menjemputku, sebelum berangkat sekolah kau menyisiri rambutku, dan kau bedaki pipiku,  tiap pagi didepan lorong rumah kau antar aku, kita menaiki becak bersama-sama menuju sekolahku. Terimakasih Ma, itu indah sekali.

Ketika aku berumur 9 Tahun, aku bermain bersama teman-temanku, memanjat sebuah pohon di depan rumah Pak Haji di lorong sebelah rumah kita, aku tak bisa memanjat saat itu, Ma. tapi teman-temanku memaksa karena katanya aku yang paling kuat diantara mereka. Mereka memintaku mengambilkan buah jambu biji milik Pak Haji, tapi sialnya aku terpeleset dan aku terjatuh. Lututku cedera dan tak bisa berjalan selama 3 hari, kau tidak memarahi aku, kau merawatku dan mengatakan bahwa ini adalah balasan karena aku tak meminta izinmu ketika hendak bermain. Maafkan aku,Ma.

Ketika aku berumur 10 Tahun, Kau bantu aku belajar menghadapi ujian, kau selalu bangun di tengah malam untuk shalat tahajud dan membacakan yassin fadilah agar aku dimudahkan menghadapi ujian sekolah pertamaku. Terima Kasih ma, Doamu tak ada duanya.

Ketika aku mulai memasuki sekolah SMP, aku masuk di sekolah yang didominasi oleh anak-anak orang kaya di jakarta, Saat itu kita baru pindah ke Jakarta karena Ayah sudah di bebas tugaskan di rumah kita sebelumnya di palembang.

Di jakarta kita tidak memiliki apa-apa, kita hanya keluarga kecil yang baru merantau di Jakarta dengan rumah kontrakan 4 kali 6 meter. Aku ingat bahwa saat itu aku merasa minder, ma. Aku kesulitan beradaptasi ketika kita pindah ke jakarta, aku malu karena teman-temanku yang kaya raya selalu menyombongkan mobil dan rumah mewahnya di depanku.
Aku ingat aku pernah pulang kerumah sambil memelukmu dan menangis, karena dilarang oleh salah seorang temanku untuk menyentuh komputer di labolatorium, katanya nanti komputernya rusak karena aku tidak bisa menggunakan komputer dan tidak memilikinya. Mereka menghinaku ,ma. mereka mengatakan bahwa keluarga kita miskin dan tidak tahu caranya menggunakan komputer.
Aku menangis, aku merasakan dadaku sakit saat itu,Ma.  Tapi engkau selalu menenangkanku dari kemarahan, kau mengatakan bahwa aku harus bersabar, karena kehidupan kaya atau miskin adalah ujian. terimakasih Ma, untuk ketenangan yang engkau berikan,

Enam bulan setelah aku menangis tersedu saat itu, ketika aku pulang sekolah. Ku lihat ada sebuah mobil pick-up didepan rumah kontrakan kita, mobil itu membawa masuk seperangkat komputer ke rumah kita. Ma, ternyata engkau menjual perhiasanmu untuk membelikan aku sebuah komputer. Ya Allah, terimakasih Ma. Kau benar-benar malaikat bagiku.

Saat itu aku berjanji  akan masuk di sekolah SMA unggulan untuk membuatmu bangga dan berterimakasih atas hadiah yang engkau berikan. Alhamdulilah, setelah pengumuman masuk SMA, Allah mengizinkan ku masuk ke sekolah unggulan yang engkau ingin kan. Aku memelukmu, terimakasih ma. Doamu yang buatku berhasil.

Sekolah SMA ku dulu dekat dengan rumah, dilain sisi aku merasa senang karena tak perlu menempuh perjalanan jauh menuju sekolah, tapi keadaannya hampir sama seperti waktu aku duduk di bangku SMP ma, aku merasa minder karena teman-teman di SMA sebagian besar adalah anak-anak orang kaya, mereka juga sama pernah menghina rumah kita dari atas gedung lantai 3 sekolah, Ma. memang rumah kita berjarak sangat dekat dengan sekolah, tepat di belakang sekolah. Aku mendengar sendiri teman-teman ku mengatakan bahwa aku tinggal di rumah yang kecil di belakang sekolah dengan genteng yang bocor dan warna cat yang lusuh, aku mendengarnya dengan telingaku, Ma. Hatiku sama sesak dan sakitnya saat itu, tapi aku menyadari bahwa aku mulai beranjak dewasa, dan tak lagi sepantasnya ku buat hatimu kesusahan karena kesedihanku.  tak lagi ku ceritakan apa yang mengganggu hatiku saat itu,aku ingat saja nasihatmu bahwasanya “miskin atau kaya adalah ujian dari Allah, bagaimana bersabar dan bersyukur”.

Di umurku yang ke 19 Tahun, aku jatuh cinta  pada  seorang pria. kakak tingkatku. Kau menasihatiku tentang banyak hal, kau memberi kepercayaan padaku,  namun aku tahu dibalik kepercayaanmu itu kau simpan rasa khawatirmu padaku.
kau turut berbunga-bunga saat aku juga merasakan berbunga-bunga nya jatuh cinta. Kau merasa sangat bahagia saat ku ajak kekasihku menemuimu dirumah untuk yang pertama kalinya, kau ceritakan tentang cerita masa kecilku padanya. kau ceritakan betapa kau menyayangi aku.

Aku melihat kekhawatiran ditiap ucapanmu dengannya, Ma. Aku tahu kau takut aku disakiti oleh seorang yang baru saja aku kenal, kau takut dia tak menjagaku dengan baik seperti engkau menjagaku.

Aku sadar, Ma. memang tak ada yang bisa menjagaku dengan baik selain Allah dan engkau.

*****

hmm.. Sekarang aku sedang setengah bersandar di tempat tidur, Kau pun masih tetap menjagaku sama seperti saat aku sakit ketika aku masih kecil, Kau tak pernah meninggalkan aku, kau selalu mengajari aku tentang kebaikan, rasa syukur dan rasa sabar.

Terimakasih ,Ma untuk semua yang engkau berikan padaku. Besok aku pasti sembuh, aku akan pulang dan membahagiakanmu.

Doakan aku ma, agar aku selalu sehat dan bisa membahagiakan mu dengan sebuah toga di hari wisudaku nanti. Maafkan aku untuk beberapa waktu ku yang melupakan mu dan mengharap penjagaan dari orang lain yang baru ku kenal itu. yang tak ku tahu cintanya asli ataukah palsu untukku. Terimakasih ma. Izinkan aku memperbaiki kesalahan yang selama ini aku buat padamu.

Aku lebih takut kehilanganmu, daripada kehilangan apapun di dunia ini. :’) Kau malaikatku , Ma. sejak pertama kali aku bernafas hingga akhir kali nafasku ku tarik, aku ingin selalu bersamamu.

Terimakasih ,Ma.
Aku mencintaimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s