logikaku tidak mati

 

Banyak wanita yang bersungut-sungut meminta bulir rasa yang tak pasti kepada mereka,
ada yang mengiba, menderma, bersandiwara bahkan membutakan dengan sengaja logika mereka.
Aku pernah melalui fase itu, fase yang memberikan kehangatan yang semu.
Menjebak dirimu dalam bunga-bunga yang kemudian layu
seperti halnya mereka yang tak bisa memapah nafsu

dan ketika kau membutakan logikamu, habislah kau.

Mereka bersajak, memuja-memuji sebagian dari mereka dengan harapan agar dipeluk oleh rasa yang tak berlogika.
Mereka meminta kepada sebagian mereka untuk dilindungi, dibawa pulang kerumah, disinggahi dengan kuda putih ksatria.
Mereka sengaja menyerahkan diri mereka kepada sebagian lainnya untuk ditawan, dikasihi karena hawa nafsu lalu disakiti karena telah dianggap mengganggu.

Aku pernah melalui fase itu, fase dimana logikaku mati suri.
sengaja ia ku buat buta dan tuli agar aku tak melihat dan mendengar kebenaran lagi.
sengaja aku buat sebagian dari diriku bisu, sehingga aku tak bisa mengingatkan sebagian lainnya tentang akibat dari kematian logika yang kusengaja ini.
Aku beralasan bahwa ini membahagiakanku, aku menyakinkan diriku bahwa aku bisa mengandalkan sebagian dari mereka yang aku pilih.

Tapi aku salah, kawan.
ketika aku membutakan logikaku, habislah aku.

saat itu aku memasuki fase akut dari harapan yang kubiarkan menumpuk jadi satu.
Aku terluka.

Tidak. aku tidak menyalahkan siapapun,

percayalah kawan, aku dulu juga memuja-dan memuji mereka. seperti yang kau lakukan.
mengatakan bahwa kisah yang aku ukir bersama mereka tak akan pernah berakhir.
percayalah kawan, aku telah melalui fase dimana aku berlebihan dalam membuta-tulikan logikaku
hingga akhirnya mereka mati suri.

aku menjadi lemah dan berharap dibangunkan oleh  mereka dari mati suriku seperti halnya cerita putri salju.
aku berharap – berharap dan menjadi pengharap dalam kelemahan yang sungguh mengerikan. Percayalah, fase itu sungguh mengerikan kawan.

ketika kau membutakan logikamu, habislah kau.

jangan seperti itu kawan,
mereka memang semakin berkurang jumlahnya, tapi tak berarti kau harus butakan logikamu untuk mereka dadukan di atas meja. tak berarti kau serahkan sebagian dari hidupmu untuk ditertawakan oleh mereka.

bangunkanlah logikamu, sebelum mereka benar-benar mati.
bangunkanlah logikamu, sebelum mereka memasuki fase mati suri dan kau tak bisa berbuat apa-apa.
bangunkanlah logikamu, sebelum mereka menjadi seperti milikku.

ia  menjadi mati rasa.

Advertisements
By Annesa Nurul Posted in Puisi Tagged

2 comments on “logikaku tidak mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s