Brainstorming dengan seorang akhwat.

 

Saya mempunyai teman seorang akhwat ( Dalam bahasa arab akhwat ini berarti wanita. tapi biasanya di masyarakat / khususnya kampus tempat saya kuliah, sebutan ini akrab digunakan untuk menyebut seorang wanita muslimah ) sebut saja namanya Sinta (bukan nama sebenarnya, hehe ). Kami bisa dibilang teman yang cukup dekat, karena kami sudah satu sekolah sejak duduk di bangku SMA. Suatu hari menjelang ujian komprehensif ia meminta saya untuk belajar bersama. Singkat kata singkat cerita, akhirnya seusai selesai sesi perkuliahan, saya dan dia memutuskan untuk belajar bersama di kediaman saya. Seusai belajar kamipun duduk sejenak untuk merefresh otak yang agak kusut karena statistik matematika ( Ini pelajaran paling keren seantero jagad statistik, menurut saya 😀 ) . Tiba-tiba ia bertanya kepada saya :

“Kamu percaya gak lul kalo Tuhan itu baik ? dan Maha pemberi kebaikan ?”, Aku ragu kalau Tuhan itu benar-benar baik. Tuhan itu menurut ku jahat..

saya yang mendengar kan pertanyaannya agak tercengang, masa seorang akhwat yang taat sepertinya mengatakan bahwa Tuhan itu jahat, pikir saya. Saya kemudian bertanya mengapa dia tiba-tiba mengatakan bahwa Tuhan itu jahat. Dia kemudian meminta saya untuk mengambilkannya Al-Qur’an.

“Ni Lul, kamu coba baca ayat-ayat ini : Rasakanlah sentuhan api neraka. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (al-Qamar: 48—49),

kemudian ini : “Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)

dan dua ayat ini Lul, : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa’ : 29)

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).” (QS. Al-Kahfi ; 6) “

Saya yang sudah selesai membaca keempat ayat tersebut mengerenyitkan dahi, terus kenapa pikir saya. apa masalah nya ? saya tanyakan lagi padanya.

“iya, kan di dua ayat pertama Allah bilang kalau dia sudah menakdirkan dan menetapkan segala sesuatunya, Ia mengetahui segala sesuatunya bahkan yang masih di dalam kandungan seorang ibu pun sudah ada ketetapan dan takdir atasnya, jodohnya, rejeki, dan maut serta cara ia mati sudah digariskan oleh Allah SWT, Tetapi kenapa di ayat selanjutnya Allah menjadikan bunuh diri itu sebagai dosa yang besar, bahkan akan dapat balasan api neraka yang begitu pedih dan gak akan pernah masuk ke surga. Bukannya tadi sebelumnya Allah sudah menetapkan takdir dia sejak lahir?. ya, berarti Allah sudah menetapkan juga cara ia hidup sampai cara dia mati dong, kalau seseorang itu akan mati dengan cara bunuh diri dan akhirnya dia akan disiksa yang pedih di neraka. Berarti Allah sengaja dong bikin seseorang yang ditakdirkan untuk mati bunuh diri sehingga dia gak akan pernah masuk surga. Jahat dong ya, masa dari dia dalam kandungan udah ditetapin matinya bunuh diri, gak bakal masuk surga. Tapi dibilangnya Allah itu Maha Penyayang. Menurut mu gimana Lul, kenapa Allah menciptakan surga dan neraka, bahagia dan kesulitan. Kalau Allah Maha penyayang, seharusnya dia mau hamba-hambanya bahagia kan ya ? ya gak usah di kasih neraka sama kesulitan hidup dong harusnya. “

Saya Spechless mendengar pertanyaan-pertanyaan beruntun yang diajukannya kepada saya, saya hanya tersenyum kecut karena tidak tahu harus menjawabnya bagaimana. Saya merasa bahwa ternyata masih ada pertanyaan yang lebih sulit untuk dijawab daripada pertanyaan statistik matematik yang dia ajukan ketika belajar tadi. Saat itu saya mulai berfikir bahwa saudari saya ini sedang diuji keimanannya dengan rasa ingin tahunya, begitu pula saya yang menjadi tempatnya bertanya sedang di uji dan diperingatkan oleh Allah karena selama ini kurang memahami ilmu Agama.

Seperti diberi petunjuk oleh Allah SWT, Adzan ashar berkumandang saat itu, saya mengatakan bahwa sebaiknya kita shalat terlebih dahulu, baru nanti dilanjutkan lagi percakapannya. Dalam shalat saya masih terus memikirkan pertanyaannya tersebut, sembari meminta petunjuk bagaimana menjawabnya dengan baik. Seusai shalat saya mulai membuka pembicaraan.

Saya bertanya sekaligus bicara panjang lebar untuk berusaha menjawab pertanyaannya tadi

“Sin, Kalau kamu disuruh pergi ke kampus sama orang tuamu, tapi mereka sudah menetapkan dan mengharuskan kamu untuk ngambil jalan yang jauh, panjang, jalannya rusak dan banyak premannya. sementara ada jalan yang baik, dekat dan aman. kamu sebel gak ? sebel kan ya pasti. Atau sebaliknya orang tuamu udah netapin jalan yang harus dilalui itu lurus lancar dan gak ada hambatan apapun buatmu dan tiap hari kamu harus lewat jalan itu, semua yang kamu temui sama sepanjang jalan itu. Enak sih, tapi bosen juga kan. Tapi ketika kita diberi pilihan, banyak hal yang bisa kita petik sepanjang perjalanan.

Allah menakdirkan seseorang ia akan masuk neraka bukan berarti Allah memaksa seseorang kufur. Allah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh makhluk-makhluknya di dalam kehidupan mereka di dunia. Allah telah memerintahkan pena penulis takdir untuk menuliskan apa saja yang akan terjadi pada para hambanya. Takdir tersebut tidak diketahui oleh satu pun dari makhluknya, baik malaikat-malaikat yang dekat dengan-Nya, tidak pula para nabi. Tidak seorang pun mengetahui takdir apa yang dituliskan di lauhul mahfuzh untuknya.

Kalau menurut saya, itu lah jawaban kenapa kita dihidupkan di dunia, karena Allah yang Maha baik ingin kita sebagai makhluknya bisa memilih dan tawar menawar dengan takdir yang dia tetapkan sebelumnya melalui perbuatan yang baik dan amalan shaleh. Allah pun telah mengutus para rasul sebagai penegak hujjah-Nya. Para rasul telah memberikan kabar gembira dan peringatan atau ancaman.

Kalau seandainya Allah tidak mengutus mereka, maka masuk akal kalau mereka hendak mengkritik Allah Ta’ala. Seseorang itu dihukum tidak lain dikarenakan apa yang mereka amalkan setelah dijelaskan kepada mereka mana yang salah dan mana yang benar, Tapi mereka malah memilih yang salah. Oleh karena itulah, orang-orang yang belum sampai pada mereka risalah kenabian mereka memiliki alasan kelak di hari kiamat. Tapi buat kita yang sudah sampai dengan jelas petunjuk dari Nya, gak ada alasan untuk menuntut atas apa yang enggak kita ketahui.

Allah itu maha baik loh, ia mau kita memilih dan memaknai hidup, dia bahkan ngasih petunjuk untuk memilih yang baik melalui nabi dan rasulnya, Takdir yang Dia tetapkan ketika kita masih di kandungan orang tua pun , masih bisa di tawar melalui usaha dan doa. Allah itu tidak jahat dengan membiarkan orang bunuh diri, mungkin saja di dalam Lauhul Mahfuzh orang tersebut tidak ditakdirkan bunuh diri, tetapi ketika orang tersebut hidup dan diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya, ia malah memilih jalan yang salah. Tidak berusaha dan tidak berdoa, hingga akhirnya ia milih buat mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Itu kan pilihannya sendiri, Allah sudah menakdirkan, kita yang memilih dan Allah yang menetapkan apa yang kita pilih itu terjadi atau enggak.

Allah telah mewajibkan bagi kita syariat-Nya dan memerintahkan kita dengan syariat tersebut. Sehingga yang tersisa bagi kita hanya ada dua pilihan. Pertama, kita berprasangka baik bahwa Allah telah mentapkan takdir yang baik bagi kita dan menakdirkan kita sebagai penghuni surga. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya rahmatnya itu mendahului kemarahannya, ridha-Nya lebih Dia kedepankan dari pada rasa kebencian-Nya.Berlakulah dengan perbuatan layaknya calon penghuni surga. Setiap orang akan dimudahkan menuju takdirnya. Kedua, kita berprasangka buruk kepada Allah bahwasanya ia akan memasukkan kita ke neraka dan kita memilih jalan-jalan yang mengantarkan kita ke neraka.

Kalo menurut saya sih itu, Doa dan usaha bisa merubah takdir yang telah Allah tetapkan di kitabnya. Tawar menawar aja dengan doa terhadap takdir yang mungkin buruk yang akan terjadi sama kita. Allah itu baik, percayalah. berprasangka yang baik, maka Allah akan memudahkan kita menuju takdir yang baik. Hidup itu pilihan dari Allah, ia menunjukan kepada kita kebaikannya dengan mengizinkan kita memilih yang baik dan buruk semasa hidup kita. yang penting berprasangka baik saja. 🙂

Saya tidak tau harus menambahkan apalagi pada jawaban saya, itu lah yang saya ketahui. saya mengatakan kepadanya. Ia pun sepertinya lelah dan menerima jawaban saya yang panjang lebar. akhirnya kami mengakhiri percakapan tersebut dengan tersenyum. Sepertinya kami terlalu serius kali ini. 😀

Tapi di akhir pembicaraan ia setuju dengan apa yang saya sampaikan,

“Doa dan Usaha adalah tawar menawar dengan Lauhul mahfudz”, begitu ucapnya.

mungkin kadang kita ragu ketika kita diberi kesulitan, tapi keraguan kita semoga tidak menjerumuskan kita menjadi kufur apalagi kafir. Allah bersama prasangka hambanya. saya tersenyum, kami pun mengakhiri pembicaraan dan mulai lagi belajar statistik matematik.

Semoga percakapan singkat kali ini bisa megingat kan saya dan kita semua, bahwa tidak ada segala sesuatu yang ada di langit dan bumi ini melainkan telah ditetapkan olehNya. Kita sebagai makhlukNya hanya bisa berdoa dan berusaha memohan perlindungannya agar bisa berjalan di jalan yang benar.  🙂

Semoga bermanfaat. 🙂 tetap semangat. 🙂 yooosh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s