Cahaya Mata Bacharuddin Jusuf Habibie : Sosok Ibu Negara Hasri Ainun Habibie

Hasri_Ainun_Habibi

Untuk Ainun 

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat adalah kenyataan
bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja,lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang,
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir,
pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

-Bacharuddin Jusuf Habibie kepada (Alm) Hasri Ainun Habibie-
Acapkali yang sering menjadi pemberitaan di media masa saat ini adalah mengenai kehebatan dari suatu sistem kepemimpinan seorang pemimpin, baik itu gubernur, presiden, maupun seorang raja. Tapi terkadang suatu hal yang luput dari mata publik adalah mengenai siapa orang yang berada dibalik kegemilangan seorang pemimpin tersebut. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “”Di balik seorang tokoh, selalu tersembunyi peran dua perempuan hebat, yaitu ibu dan istri,”
Kali ini saya akan menulis mengenai sosok wanita inspiratif yang ada di belakang kegemilangan seorang presiden di masa orde baru, Presiden Ketiga Republik Indonesia yaitu istrinya : Ibu Negara Hasri Ainun Habibie.
Bagaimana perasaan anda ketika membaca surat terakhir yang dituliskan BJ. Habibie untuk istrinya tersebut ? Terharu ? ya.. tentu, Kira-kira apa yang membuat seorang presiden B.J Habibie terlihat begitu nelangsa selepas kepergian Almarhum istri tercintanya? hal itu dikarenakan sosok Hasri Ainun Habibie telah memberikan bekas kenangan yang sangat mendalam di hatinya sehingga kepergiannyapun membuat BJ. Habibie seperti kehilangan separuh jiwa dan hidupnya.
      Kisah cinta B.J Habibie dan Ibu Ainun dimulai ketika mereka berdua duduk dibangku SMA. Dulunya mereka berdua adalah juara kelas yang sangat bersinar. Ibu Ainun muda merupakan gadis tomboy yang pintar, sama halnya dengan B.J Habibie. Melihat cemerlangnya prestasi siswa dan siswi tersebut, guru mereka akhirnya mencoba untuk menjodohkan mereka, tetapi hanya dianggap biasa-biasa saja oleh B.J Habibie. Ibu Ainun yang terkenal sebagai primadona sekolah ternyata tidak mampu menggetarkan hati Pak Habibie muda pada waktu itu. Baru ketika kepulangannya ke tanah air pasca meraih gelar insinyur di Universitas Tehcnische Hochschule di Aachen Jerman Tahun 1960. Habibie menyadari pesona Ibu Ainun muda ketika berkunjung ke rumah temannya yang kebetulan adalah kakak dari Ibu Ainun. Pada waktu itu, Ia melihat Ibu Ainun muda mengenakan kaos kasual dipadu celana jeans. Beliau kemudian berkata, “Ainun, mana mungkin gula merah berubah menjadi gula pasir”.
Pada tanggal 12 Mei 1962, BJ. Habibie justru menikahi wanita yang tadinya ia anggap biasa-biasa saja namun saat itu mampu merebut dan membuatnya jatuh cinta; “gula jawa yang sudah berubah menjadi gula pasir” ; Hasri Ainun Besari, Putri keempat dari Keluarga Besari.
      Setelah menikah Ainun ikut dengan Habibie yang harus menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Jerman. Kehidupan awal di sana dilalui dengan perjuangan yang luar biasa. Setidaknya ia harus bersabar dengan pendapatan yang teramat kecil dari beasiswa Habibie. Namun dengan tekun dan sabar ia tetap menyertai Habibie. Bahkan untuk menghemat ia menjahit sendiri keperluan pakaian bayi yang dikandungnya. Dan disanalah ia mengandung dua putranya, melahirkan dan membesarkannya.
      Ainun adalah seorang ibu yang sangat bertanggung jawab dalam mebesarkan anak-anaknya. Sejak kecil ia membiasakan anak untuk mengembangkan kepribadian mereka sendiri. Ia membebaskan anak-anak untuk berani bertanya tentang hal yang tidak diketahuinya, dan Ainun akan memberikan jawaban jika ia mampu atau ia akan meminta Habibie jika tidak mampu. Hal ini tentu saja karena ia sadar kalau anak-anak sejak kecil harus dibangun keingintahuan dan kreatifitasnya. Selain itu Ainun juga membiasakan anaknya hidup sederhana. Uang jajan diberikan pas untuk satu minggu. Dengan demikian si anak memiliki kebebasan untuk memilih jajanan yang mereka sukai dan mengelola uang mereka sendiri. Anak-anak Ainun tumbuh sebagai anak yang menghargai kesederhanaan itu. Pernah mereka harus bolak-balik dari satu toko ke toko lain untuk mendapatkan harga yang pas sebelum membeli suatu barang. Hal yang juga tidak kalah penting dalam mendidik anak adalah membiasakan mereka mengemukakan pendapat dengan mengajak mereka berdiskusi di rumah. Menurut Ainun, jika anak-anak berani mengeluarkan pendapat, artinya mereka sedang belajar dalam hidupnya.
      Melalui Penganugerahan gelar doktor honoris causa (Dr HC) dari UI, Habibie mengungkapkan sebuah kalimat yang menceriminkan bagaimana peran Ainun di belakang kesuksesannya. ”Di balik seorang tokoh, selalu tersembunyi peran dua perempuan, yaitu ibu dan istri,” Oleh sebab itu pula dalam sambutannya Habibie mempersembahkan gelar tersebut untuk istrinya. “Saya juga menerima penghargaan ini atas nama keluarga, anak-anak dan cucu-cucu saya, khususnya istri saya yang terus mendampingi saya dengan tulus dan ikhlas, sehingga saya menjadi hamba Allah seperti sekarang ini.”
     Penghargaan yang begitu besar oleh Habibie kepada istrinya memang tidak berlebihan. Pada saat mula-mula hidup di Jerman mereka adalah keluarga kecil dengan penghasilan suami yang sangat kecil. Dalam kondisi inilah ia menjadi pendamping yang dapat diandalkan. Ainun juga kerap menjadi motivator bagi Habibie. Misalnya ia menyemangati Habibie saat Habibie hampir putus asa karena thesisnya diambil alih oleh pembimbing. Berkat dorongan dan semangat dari Ainun, Habibie malah mendapatkan ide yang jauh lebih baik dan sempurna. Ainun memang mendampingi Habibie dalam segala hal. Saat mula-mula Habibie menjadi tekhnokrat, ia menjadi sosok yang mengatur Habibie di belakang layar. Misalnya, ia yang selalu mengingatkan Habibie dalam masalah waktu kerja. Ketika jam telah menunjukkan pukul 22.00, Ainun menelpon Habibie dan mengingatkannya agar menjaga kesehatan. Habibie terkadang meminta stafnya menjawab kalau ia sudah di lift hendak pulang. Padahal ia terus duduk di belakang meja kerjanya. Ainun juga menjadi pengingat waktu saat Habibie memberikan kuliah atau ceramah. Wardiman Djojonegoro, mantan menteri pendidikan (1993-1998) pada era Soeharto mengatakan kalau Ainun juga sangat memperhatikan makanan untuk Habibie. Dialah yang menetukan asupan gizi yang baik untuk sang suami. Sebagai Dokter hal ini memang mungkin dilakukannya. Sehingga kalau di depan Ainun, Habibie sangat taat dengan aturan makan yang diterapkan istrinya. Namun terkadang kalau Habibie makan berpisah dengan Ainun, ia sering lupa dengan aturan makan dari istrinya. Hal ini terjadi karena tidak ada orang yang tahu bagaimana makanan yang pas untuk Habibie keculai Ainun, istrinya.
      Pada saat Habibie menjadi Wakil Presiden republik Indonesia, Ainun adalah seorang yang dengan tulus ikhlas membantu suaminya mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Dalam buku karangan Habibie “Detik-detik Yang Menentukan” tergambar dengan sangat baik bagaimana Ainun mendampingi Habibie dalam kondisi yang sangat gawat dan krusial. Habibie dalam sebuah cerita yang panjang memasukkan dengan gamblang apa saja yang dilakukan Ainun dalam mendampinginya dan Ainun pula yang menjadikan Habibie selalu tenang dan matang dalam mengambil sebuah keputusan.
Selama menjadi Ibu negara Ainun menunjukkan dedikasi dan pengabdiannya pada suami dan pada negara sekaligus. Banyak orang yang merasa terkagum-kagum bahkan heran bagaimana Ainun dalam usianya yang tidak lagi muda memiliki energi dan stamina yang seolah tidak pernah habis dalam mengikuti ritme kerja Habibie. Kita tahu tahun 1999 ketika BJ Habibie menjadi presiden Indonesia keadaan Republik indonesia saat itu sedang berada dalam keadaan yang kacau belau. Namun di tengah gemuruh kekacauan ini Ainun mampu menempatkan diri sebagai Ibu Bangsa yang melayani dan mendukung suami sekaligus menjadi “Ibu” untuk “200” juta rakyat Indonesia.
     Berbagai kiprah selama hidup bersama Habibie, membuat Habibie menempatkan Ainun sebagai orang yang sangat dekat di hatinya. Dalam sebuah seminar yang diadakan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di kantor BPPT Jakarta, Habibie pernah menjadi keynote speaker. Saat datang Habibie ditemani oleh istrinya, Ainun. Setelah selesai memberikan kuliahnya, semua wartawan datang mengerubunginya untuk wawancara. Pada saat itu pula Habibie tidak peduli dan ia nampak mencari-cari di mana Ainun. Ketika seorang wartawan bertanya tentang pendapatnya atas situasi di Timor Leste, Habibie hanya menjawab singkat. “Maafkan, saya sedang mencari di mana mantan pacar saya. Mana Ainun? Saya belum pernah pisah dengan Ainun. Mana Ainun?”
    Wujud cinta ini juga terlihat saat Ainun sudah terbaring di rumah sakit. Selama hampir tiga bulan ini Habibie dikabarkan tidak beranjak dari sisi istrinya. Sejak masuk rumah sakit pada tanggal 24 Maret 2010 silam Habibie memberikan perhatian dan menunjukkan cinta kepada ibu dari anak-anaknya itu. Tentu saja ini terjadi karena Habibie dan Ainun telah banyak melewati berbagai perjuangan dalam menempuh hidup ini. Perjuangan tersebut telah memupuk cinta mereka begitu kuat dan terasa takkan terpisahkan. Selama di rumah sakit juga Habibie menuntun istrinya untuk shalat.
     Hanya sampai di rumah sakit? Ternyata tidak. Dalam proses penantian pengurusan administrasi sebelum jenazah diterbangkan ke tanah airpun Habibie masih mendampingi istrinya. Dalam pesawat beliau masih dekat dengan jenazah almarhumah. Saat tiba di tanah air jenazah diturunkan dari pesawat, beliau masih mendampingi peti jenazah tersebut. Dalam beberapa foto yang diabadikan wartawan jelas nampak Habibie dengan peci hitam berjalan dengan memegang peti jenazah istrinya. Bahkan saat jenazah dibawa ke pemakaman dari rumah duka, Habibie tidak mau naik ke mobil yang telah disediakan untuknya. Ia malah memilih masuk ke dalam ambulan dan duduk di sisi peti jenazah istrinya. Mungkin tidak semua masyarakat yang menyaksikan iring-iringan mobil itu tahu kalau mantan menteri, mantan presiden, orang besar yang dikenal tidak hanya di Indonesia itu berada berdua dengan sang istri dalam ambulan menuju pemakaman.
Dalam sebuah sambutan yang diberikan Habibie setelah upacara pemakaman istrinya ia mengungkapkan rasa cinta itu dengan sebuah kalimat puitis nan indah:

“12 Mei 1962 kami dinikahkan. Bibit cinta abadi dititipkan di hati kamu dan hati saya, pemiliknya Allah. Cinta yang abadi dan sempurna. Kamu dan saya, sepanjang masa. Nikmatnya dipatri dalam segala-galanya, satu batin dan perasaanya.” 

Ungkapan ini bukan hanya pemanis bibir. Habibie telah menunjukkan dalam laku dan perbuatannya. Ia mencurahkan seluruh cinta dan hatinya pada sang istri, Ainun Haibie, sampai ia menutup mata.
Tepat jam sepuluh pagi lima puluh tahun kemudian di Taman Makam Pahlawan

Setelah membacakan tahlil bersama mereka yang menyayangimuSaya panjatkan doa untukmu, selalu dalam lindungan-Nya dan bimbingan-NyaBersyukur pada Allah subhanahuwata’ala yang telah melindungi dan mengilhami kitaMengatasi tantangan badai kehidupan berlayar ke akhirat dalam dimensi apa sajaSekarang sudah 50 tahun berlalu, selalu menyatu dan tetap menyatu sampai akhirat
BJ Habibie
Jakarta, 12 Mei 2012, Taman Pemakaman Kalibata.

Semoga sosok Hasri Ainun Habibie bisa menginspirasi kita semua wanita Indonesia, untuk terus berjuang menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal mengabdikan diri kepada Allah, Orangtua, Suami, Anak-anak, serta bangsa dan negara. Amin 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s