Perjalanan mencari obsesi

Setiap orang mempunyai hobi yang berbeda-beda. sejatinya hobi bisa menjadi salah satu sarana melepaskan stress dan kepenatan pasca melakukan berbagai aktivitas. Ada sebagian orang yang mempunyai hobi menulis, fotografi, berolahraga, bahkan ada pula beberapa teman saya yang mempunyai hobi bergosip. hehe.
Hobi yang positif bisa membawa si pemilik hobi kedalam suatu kebahagiaannya sendiri, bahkan ada orang yang rela mengeluarkan uang banyak untuk memenuhi kebutuhan batinnya melalui penyaluran hobi. Tidak hanya mengeluarkan uang, dari sebuah hobi seseorangpun bisa menghasilkan uang.
Beberapa bulan yang lalu saya sering mengunjungi Kantor Badan Pusat Statistik yang berada di Budi Utomo, sebagai salah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Statistik tiap hari saya selalu akrab dengan angka dan ilmu hitung terapan. Terkadang saya merasa jenuh dengan aktivitas yang saya lakukan. Saya tau bahwa satu-satunya cara menghilangkan kejenuhan adalah dengan melakukan hobi dan aktivitas yang kita cintai (bukan berarti saya tidak mencintai aktivitas saya sebagai mahasiswi statistik ya ) tapi saya sendiri merasa belum memiliki suatu obsesi yang besar terhadap beberapa hobi saya sebelumnya, (Seperti : mendengarkan lagu, berenang, maupun membaca) bagi saya hobi-hobi tersebut hanya bisa saya jadikan hobi yang dinikmati, saya sendiri berkeinginan untuk mempunyai hobi yang dapat menghasilkan suatu output. Sampai suatu hari, di jalan pulang dari BPS saya memutuskan untuk pulang lewat jalur Pasar baru menuju Lapangan Banteng. Disepanjang jalan di dekat jembatan pasar baru tepatnya di depan Gedung Kesenian Jakarta, saya melihat beberapa kios lukis yang menjual hasil lukisan tangan pemiliknya. Mereka adalah pelukis-pelukis yang diberi izin dari Pemprov DKI jakarta untuk mendirikan kumpulan kios lukis bernama  Taman Kelompok Lukis Pasar Baru. Ada sekitar 29 pintu galeri yang berdiri disana. Saya menghampiri salah satu kios mereka, sebenarnya saya tidak bermaksud untuk membeli. Saya hanya ingin bertanya dan menggali beberapa jawaban dari pertanyaan saya.
Saya bertanya kepada salah seorang pelukis, Namanya Pak Mukti,  dia bercerita bahwa untuk satu buah lukisan sketch dengan warna sederhana biasanya dia jual dengan harga sekita 200- 300 ribu rupiah tergantung komposisi warna dan banyaknya warna yang digunakan. Sedangkan untuk lukisan yang agak besar bisa bernilai sekitar 600-900 ribu rupiah. Belum lagi jika lukisan tersebut ditambah dengan bingkai harganya bisa mencapai lebih dari 1 juta. Dia juga mengatakan bahwa melukis itu menyenangkan, dan setiap orang pasti punya bakat melukis tergantung seberapa sering ia melatihnya.
Ini dia foto-foto mereka :
Keren kan ?

nah, setelah percakapan terakhir saya dengan salah seorang pelukis tersebut, hampir dua minggu berturut-turut saya selalu sengaja pergi dan mengunjungi BPS melalui jalan pasar baru tersebut. Niat saya adalah agar saya bisa mengintip-intip sekaligus mempelajari bagaimana caranya para pelukis tersebut memulai sampai mengakhiri lukisan mereka.  Setiap orang memiliki bakat melukis, dan saya pikir setelah lama mengamati mereka saya juga ingin menjadi seperti mereka. Seorang yang mempunyai hobi melukis dan mencintai lukisan. Tapi seperti yang dikatakan oleh Pak Mukti, menjadi pelukis harus dimulai dengan banyak berlatih, Semakin banyak berlatih semakin lama lukisan akan menjadi halus dan kitapun akan menjadi lebih peka dan lebih bisa merasakan bagaimana memberi warna yang tepat untuk lukisan yang kita buat.

Sekarang saya lebih intens berlatih melukis, saya memulai berlatih dengan membuat beberapa sketch dari wajah orang-orang yang dekat dengan saya. Karena belajar itu  harus dimulai sedikit demi sedikit saya memutuskan untuk memulai belajar dengan sketsa pensil terlebih dahulu baru nantinya belajar memberi warna dan menggunakan media kanvas dan cat.

Ini dia beberapa hasil latihan yang pernah saya buat :

 Karikatur untuk Kak kasman ketika menang pertandingan futsal.
Ini nyontoh dari gambar yang ada di cover depan buku gambar A3 milik saya.
Ini niatnya buat pemain bola idola saya, Cesc Fabregas. Tapi kata beberap orang temen gak mirip ya gak-apa-apalah. Namanya juga baru belajar. hehe.
Nah, kalau yang ini sketch wajah salah seorang sahabat saya, Astuti Dewi Adiningtias. ( Makasih ya buat Sketchbooknya berguna banget ^^ )
begitulah cerita singkat saya tentang perjalanan mencari obsesi, semoga semakin lama hasil karya yang saya buat bisa semakin halus dan mirip dengan objeknya (doakan yaa.. 🙂 ). Saya bersyukur akhirnya bisa menemukan obsesi dan hobi baru yang menyenangkan. Mari melukis.. 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s