Berserah Diri

Adalah ketika kamu merasa ingin terjatuh dalam ketakutan. tidak mampu menopang berat pada tungkai kaki yang kelelahan. dalam siang yang perlahan waktu berganti siklus menjadi gelap tanpa bulan. tanpa bintang. tanpa penerangan. apalagi pelangi dikesudahan.
ketika kamu merasakan dirimu sulit untuk tertolong, ditolong, apalagi menolong.
menjadi seperti sebatang ranting pohon pinus yang mulai rapuh terkikis embun , terbakar matahari, ditopang kaki burung-burung jalak dan merpati  yang menghampirimu lalu pergi tanpa lagu. kamu terjatuh. patah dan takut terpisah dari batang pinus besar yang menaungimu. takut terpisah dari dedaunan runcing yang hijaunya memapari bukit bersamamu.
ketika kamu merasa seperti secarik kertas yang melayang-layang di udara, dalam perjalanan terhempas kesana kemari, tertambat ditrotoar jalan raya, tertabrak di kerasnya tiang lampu jalanan kota, terinjak di bawah sendal jepit para pejalan kaki,kamu ragu. kamu tidak diperhatikan dan ditinggalkan. kamu seperti ada di  perbatasan. perbatasan antara hidup atau mati. antara bangkit atau terkubur. 
ketika kamu merasa seperti seorang yang paling bodoh sedunia, seperti seorang yang gagu dan tidak mampu mengungkapkan bait-bait lagu, puisi-puisimu, bahkan sajak-sajak yang kamu tulis di kertas merah jambu,, kini mulai pudar dan membuyar karena debu. 
ketika kamu merasa sendiri, seperti piano tanpa harmoni, tanpa hitam maupun putih. tanpa lagu maupun ritmik. kamu seperti ingin sekali bernyanyi, bersuara, menceritakan banyak hal kepada mereka, kepada malaikat-malaikat penjaga disekitaran tubuhmu, kepada burung-burung kecil yang mengartikan perasaanmu lewat suara-suara merdu.

tapi saat itu adalah saat kamu diancam gagu, saat kamu memilih dinding-dinding kamar sebagai pendengarmu.
membiarkan mereka menanggapi ceritamu dengan suara-suara bisu.
setelah kesudahan analogimu tentang ini dan itu, tentang segala alasan, tentang segala cara.  satu ataupun lain halnya mengenai kesakitan yang membisukanmu. kamu akan menjadi seperti lelah dan lelap dalam malammu, kamu seperti akan tertidur dan membiarkan esok hari datang atau tidak menjemput mu. semuanya kamu serahkan kepada mereka.

kamu hanya akan mengakhiri malammu dengan keikhlasan,mengharapkan esok pagi masih menuai harapan-harapan.
kamu seperti menyerahkan segala yang kamu inginkan kepada sesuatu yang tidak kamu ragukan.
kamu seperti menikmati setiap irisan-irisannya, memilah-milah mana darah dan mana nanah, mana resah dan mana bahagia, mana rumah dan mana persinggahan.
Ini adalah malam.
saat matahari tidak terbit karena sedang menerangi sisi lain dari bumi.
saat kamu harap bulan yang bersinar adalah bulan saat pertengahan. utuh.
saat kamu harap ada pelangi setelah hujan.

tapi ini adalah malam.

saat ia menyimpan bintang-bintangmu,
memisahkan belahan bulan penuh yang kamu harapkan. menutupinya dengan awan.
saat itu adalah ketika kamu menaruh hatimu pada sesuatu yang tidak kamu ketahui keberadaaannya.
namun tidak sedikitpun ia kamu ragukan.
saat dimana kamu menyerah pada rasa egois dan amarah.
saat kamu tahu kekuatanmu sudah tidak laku berdaya.
saat itu,

Adalah saatnya kamu berserah. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s